Dari Gang Kecil Jakarta Timur: Model Eco EduFarm Indonesia Diuji di RT 8 Malaka Jaya, Menuju Ketahanan Pangan dan Energi Komunitas

Dari Gang Kecil Jakarta Timur: Model Eco EduFarm Indonesia Diuji di RT 8 Malaka Jaya, Menuju Ketahanan Pangan dan Energi Komunitas

PROGRAM RT

3/10/20264 min baca

Jakarta Timur, Selasa, 10 Maret 2026
Gerakan pengelolaan sampah dan ketahanan lingkungan berbasis masyarakat di RT 8 RW 4 Malaka Jaya, Jakarta Timur terus berkembang menjadi sebuah model komunitas yang mengintegrasikan pengelolaan sampah, pangan, energi, dan sanitasi. Pada Kamis pekan lalu, tokoh publik dan pecinta lingkungan Irfan Hakim hadir langsung di kawasan tersebut untuk menyerahkan Tong Komposter Ksatria Nusantara kepada warga.
Penyerahan tersebut menjadi bagian dari gerakan warga untuk mengolah sampah organik langsung dari rumah, sehingga tidak lagi menjadi beban lingkungan yang harus dibuang ke TPST Bantar Gebang.
Sebanyak 60 unit Tong Komposter Ksatria Nusantara diserahkan kepada warga. Dengan komposter tersebut, setiap rumah dapat mengolah hingga sekitar 55 kilogram sampah organik dalam satu siklus, meningkat dari kapasitas sebelumnya sekitar 26,5 kilogram.

Gerakan pengomposan ini tidak hanya dilakukan oleh warga RT 8. Komposter juga diserahkan kepada warga yang berbatasan langsung dengan wilayah tersebut, yaitu RT 7 RW 4 Malaka Jaya, RT 10 RW 4 Malaka Jaya, serta RT 6 RW 5 Malaka Jaya, sehingga gerakan pengolahan sampah rumah tangga mulai meluas menjadi gerakan kawasan dan telah direplikasi ke wilayah lain.
Selain itu, komposter yang telah digunakan warga RT 8 selama dua tahun terakhir juga dialihkan kepada warga lain yang berminat, khususnya di lingkungan RW 4 Malaka Jaya. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari perluasan gerakan ekonomi sirkular warga sesuai dengan arahan Ketua RW 4 Malaka Jaya, Sularto, agar inovasi lingkungan dapat direplikasi ke wilayah lain.

Ketua RT 8 RW 4 Malaka Jaya, Dr. Taufiq Supriadi, menjelaskan bahwa gerakan ini merupakan bagian dari penerapan Model Eco EduFarm Indonesia, yaitu sistem terpadu berbasis ekonomi sirkular yang mengintegrasikan pengelolaan sampah, ketahanan pangan komunitas, perbaikan lingkungan, dan ketahanan energi. Model tersebut bahkan telah memperoleh pencatatan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari Kementerian Hukum Republik Indonesia dengan judul:
“Model Eco EduFarm Indonesia: Model Sistem Eco EduFarm Terpadu Berbasis Ekonomi Sirkular untuk Ketahanan Pangan, Lingkungan, dan Energi Komunitas.”
Menurut Taufiq Supriadi, konsep tersebut dirancang agar dapat diterapkan baik pada wilayah dengan lahan luas maupun di kawasan perkotaan yang padat penduduk.
“Untuk lahan besar seperti pesantren, kawasan pedesaan, atau wilayah yang masih memiliki lahan luas, Eco EduFarm dapat dijalankan secara terpadu. Tetapi di wilayah padat penduduk seperti Jakarta, kami mencoba menerjemahkannya dalam skala rumah tangga, sehingga sampah harus selesai di rumah dan semuanya memiliki nilai guna dalam ekonomi sirkular warga,” ujarnya.

Selain pengolahan sampah melalui komposter, warga RT 8 juga mengembangkan berbagai inovasi lingkungan seperti lubang resapan biopori, kolam budidaya ikan di saluran U-ditch, serta berbagai kegiatan edukasi lingkungan bagi anak-anak dan masyarakat. Program kolam budidaya ikan yang memanfaatkan saluran air tersebut bahkan telah direplikasi oleh RT di wilayah sekitar, menunjukkan bahwa inovasi berbasis komunitas dapat berkembang menjadi gerakan kawasan.
Gerakan ekonomi sirkular yang dijalankan warga RT 8 juga mulai memberikan dampak sosial. Hingga saat ini, kegiatan pengelolaan lingkungan dan budidaya yang berkembang di kawasan tersebut telah membuka lapangan pekerjaan baru bagi warga, dengan sedikitnya 6 orang yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan kini terserap menjadi tenaga kerja dalam berbagai kegiatan produksi dan pengelolaan lingkungan komunitas.

Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi lingkungan bagi generasi muda. Lebih dari 1.000 orang se-Indonesia telah berkunjung ke kawasan tersebut untuk belajar langsung mengenai pengelolaan sampah, komposter, dan lubang resapan biopori. Tercatat pada tautan googlemaps dengan kata kunci Pencegah Krisis Planet per hari ini sudah 1.150 Bintang lima dan komentar positif menghiasi RT 8 RW 4 Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur ini. Termasuk saat Irfan hakim datang, tak kurang dari 100 Siswa SDN 10 Malaka Jaya beserta Kepala Sekolan dan pendamping datang ke RT 8 RW 4 Malaka Jaya.
Antusiasme terhadap gerakan ini juga terlihat pada Minggu sore pekan lalu, ketika sekitar 30 orang dari berbagai komunitas lingkungan berkunjung ke RT 8 Malaka Jaya untuk melihat langsung praktik pengelolaan sampah berbasis warga tersebut. Kunjungan tersebut dikoordinasikan oleh komunitas sosial Kitabisa , dan diakhiri dengan diskusi serta buka puasa bersama warga.

Dalam pengembangannya ke depan, RT 8 juga merencanakan pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunitas sebagai bagian dari upaya memperbaiki kualitas sanitasi lingkungan. Rencana ini muncul setelah warga melakukan pengamatan terhadap kondisi saluran air di belakang kawasan yang menunjukkan warna air cenderung hitam, dan tidak mengalir lancar yang dalam kajian sanitasi sering menjadi indikator kualitas air limbah yang kurang baik. Dokumentasi kondisi tersebut bahkan telah dipublikasikan secara terbuka melalui situs komunitas www.rt08rw04malakajaya.com sebagai bentuk transparansi kepada masyarakat.
“Bau sering kali menjadi persepsi yang subjektif. Tetapi warna air yang hitam merupakan indikator yang lebih objektif terhadap kondisi sanitasi. Karena itu kami mendokumentasikan kondisi tersebut agar diskusi pembangunan IPAL nantinya dapat berbasis data dan fakta lapangan,” ujar Taufiq.

Model Eco EduFarm Indonesia yang mulai diuji di lingkungan RT 8 sejak 14 Oktober 2023 ini juga direncanakan untuk dikembangkan pada skala yang lebih luas, salah satunya di lingkungan Pesantren Darunnajah Ulujami, sebagai bagian dari pengembangan sistem ekonomi sirkular berbasis komunitas. Konsep Eco EduFarm yang dikembangkan juga memperhatikan aspek ketahanan energi dan ketahanan pangan komunitas. Dalam desain sistemnya, Eco EduFarm yang diusung Dr. Taufiq menyiapkan pompa manual serta pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sehingga aktivitas dasar seperti pengairan, produksi pangan, maupun pengelolaan lingkungan tetap dapat berjalan meskipun terjadi gangguan listrik atau jaringan internet.

RT 8 saat ini juga sedang menjajaki kerja sama dengan berbagai pihak untuk mewujudkan pengembangan tersebut, termasuk rencana pembangunan IPAL komunitas melalui dukungan CSR PT KAI (Persero) dan jasa Raharja termasuk Telkomsel serta pengembangan sistem PLTS melalui kolaborasi CSR internasional dengan PT. Aruna Hijau Power.

Menurut Taufiq Supriadi, langkah-langkah ini merupakan bagian dari upaya membangun ketahanan komunitas terhadap berbagai potensi krisis lingkungan, pangan, dan energi di masa depan.
“Konsep yang kami bangun sebenarnya sederhana, bagaimana sebuah lingkungan kecil bisa mulai belajar mandiri dalam mengelola sampah, memproduksi pangan, dan memanfaatkan energi terbarukan. Jika model kecil seperti ini dapat direplikasi di banyak wilayah, maka Indonesia memiliki potensi besar untuk memperkuat ketahanan lingkungan, pangan, dan energi dari tingkat komunitas,” ujarnya.

Gerakan yang dimulai dari sebuah gang kecil di Jakarta Timur ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bahwa solusi terhadap persoalan sampah, sanitasi, pangan, dan energi dapat dimulai dari rumah tangga dan komunitas kecil, serta dapat berkembang menjadi model pembelajaran bagi wilayah lain di Indonesia.